Makna Rabu Abu

Published by

on

Pada kalender liturgi (tahun gerejawi) dalam dunia Kristen Barat (termasuk gereja-gereja Reformasi/Protestan/Presbyterian seperti GKJ, GKI, dll.), hari Rabu Abu (Ash Wednesday) merupakan hari pertama Masa Prapaskah (Lent), dan jatuh pada hari ke-40 (tidak termasuk hari Minggu) sebelum hari raya Paskah. Oleh karena tanggal jatuhnya hari raya Paskah berubah-ubah sesuai kalender liturgi, maka hari Rabu Abu pun tidak tetap tanggalnya – pada tahun 2024 ini jatuh pada tanggal 14 Februari 2024.

Dikutip dari situs Persatuan Gereja Indonesia, Kebaktian Rabu Abu sebenarnya sudah menjadi bagian dari Liturgi Gerejawi. Dalam Liturgi Gerejawi itu, Rabu Abu menjadi awal dimulainya masa Prapaska di mana umat melakukan pertobatan. Penggunaan abu dalam liturgi berasal dari jaman Perjanjian Lama. Dalam abad kelima sebelum masehi, sesudah Yunus menyerukan agar orang berbalik kepada Tuhan dan bertobat, Kota Niniwe menyerukan puasa dan mengenakan kain kabung. Raja pun menyelubungi diri dengan kain kabung lalu duduk di atas abu. Yesus juga menyinggung soal penggunaan abu kepada kota-kota yang menolak untuk bertobat dari dosa-dosa mereka. Setelah itu, Gereja Perdana mewariskan penggunaan abu untuk alasan simbolik yang sama.

Nama “Rabu Abu” berasal dari praktek/ritual yang biasanya dilayankan pada hari itu, yaitu peneraan tanda salib dari abu pada kening/dahi umat/jemaat sebagai tanda atau simbol pertobatan. Abu yang digunakan untuk pelayanan ini biasanya berasal dari hasil pembakaran salib daun palem yang disimpan oleh masing-masing umat sejak hari Minggu Palmarum pada tahun gerejawi sebelumnya. Peneraan tanda salib dengan abu ini dilayankan oleh seorang pendeta (di Gereja Protestan) atau imam (di Gereja Roma Katolik) kepada umat/jemaat yang hadir. Sambil menerakan tanda salib, sang imam/pendeta mengingatkan umat akan makna pertobatan, dengan mengatakan, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Markus 1:15)

GKJ sebagai salah satu gereja beraliran Reformasi/Protestan juga mendorong gereja-gereja dalam kebersamaan se-Sinode GKJ untuk merayakan Masa Raya Paskah, dan mengawalinya dengan ibadah pada hari Rabu Abu. Bahan Masa Raya Paskah yang dikeluarkan oleh Lembaga Pembinaan dan Pengaderan Sinode (LPPS) selalu memasukkan ibadah Rabu Abu sebagai bagian dari ibadah-ibadah khusus selama Masa Raya Paskah.

Momen Rabu Abu dijalani bukan saja untuk mengingat kematian Yesus, namun juga untuk membawa umat kepada kesadaran akan keberdosaan dirinya. Rabu Abu merupakan momen refleksi-introspeksi, yang bernuansa gelap/berkabung, namun penting, untuk merenungkan hal-hal apa saja yang perlu dipertobatkan dan diubah dalam kehidupan kita, demi menjadi Kristen yang sejati.

Warna liturgis Rabu Abu – sebagaimana warna liturgis untuk keseluruhan Masa Prapaskah – adalah warna ungu atau ungu tua. Warna ini menyimbolkan penderitaan dan penyaliban Yesus, begitu pula penderitaan manusia di dunia akibat kuasa dosa. Namun demikian, warna ungu juga menyimbolkan keagungan, yang melambangkan bahwa melalui penderitaan dan kematian Yesus, akan datang keagungan dan pengharapan pembaruan yang dirayakan dalam kebangkitan Yesus di hari raya Paskah.

Perjalanan iman menuju kemenangan Kristus perlu diawali dengan penghayatan akan kematian-Nya, bahkan didahului dengan Masa Prapaskah, di mana umat menempatkan dirinya dalam kerendahan di hadapan Allah. Rabu Abu merupakan momen yang tepat untuk mengakui ketidaklayakan diri di hadapan Allah, saat untuk membuka diri di hadapan-Nya, dan mengingat, bahwa kita sesungguhnya hanyalah debu dan abu. Firman Tuhan dalam II Tawarikh 7:14, “… dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.” Firman ini kiranya menginspirasi kita untuk menggunakan momen Rabu Abu kali ini untuk merendahkan diri, berdoa, berpuasa, mencari wajah Allah, dan mencari kehendak-Nya.

Tuhan memberkati.