Pengantar: Bukan Sekadar Bertambah Usia
Ketika sebuah gereja atau komunitas mencapai usia 96 tahun, pertanyaan besarnya bukan lagi sekadar “Berapa banyak peristiwa yang sudah dilalui?”, melainkan “Apakah kita sedang membangun monumen masa lalu yang kaku, atau menciptakan momentum perubahan yang terus bernapas menuju masa depan?”
Perayaan HUT ke-96 Gereja Kristen Jawa (GKJ) Sidareja menghadirkan refleksi mendalam mengenai arti penting warisan iman, dinamika hubungan antargenerasi, serta keberanian melangkah menuju seabad gereja. Melalui ibadah syukur perjamuan kudus hingga seminar interaktif dan refleksi digital, jemaat diajak untuk membedah bagaimana kasih yang diteladankan hari ini menjadi iman yang diwariskan esok hari.
Dalam pembelajaran ini, Anda akan mempelajari:
- Menganalisis perbedaan mendasar antara warisan fisik dan warisan iman berdasarkan pengajaran Matius 22:34-46.
- Membedakan karakteristik Gereja Monumen dan Gereja Momentum melalui konsep titik dan koma.
- Memahami tiga pilar kehidupan gereja: Ortodoksi, Ortopraksi, dan Ortopati (olah rasa).
- Mengevaluasi sampel refleksi langsung jemaat melalui media interaktif Padlet sebagai sarana komitmen aksi nyata.
Meneladankan Kasih dan Mewariskan Iman
Pembagian warisan dalam kehidupan sehari-hari sering kali memicu perdebatan. Warisan fisik seperti tanah dapat dibagi menjadi pecahan seperempat, namun tidak jarang memicu perselisihan. Bahkan, ada humor pahit bahwa warisan yang paling mudah ditinggalkan kadang kala adalah utang! Namun, dalam kehidupan rohani persekutuan gereja, warisan teragung yang ditinggalkan bagi generasi penerus bukanlah benda mati, melainkan iman yang hidup dan teladan kasih yang nyata.
Pelajaran dari Matius 22:34-46
Dalam Ibadah HUT ke-96 GKJ Sidareja, Pdt. Dr. Tri Ratno Wahono menekankan bahwa warisan iman tidak bisa sekadar diturunkan melalui nasihat lisan (tutur nasihat) karena kata-kata bisa menguap dan terlupakan (mlebu kuping tengen, metu kuping kiwo). Teladan sejati terpancar dari kebiasaan nyata orang tua dan senior gereja dalam menghidupi Hukum Kasih:
- Mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi (perintah utama).
- Mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.
“Anak-anak dan generasi penerus tidak sekadar mendengarkan ajaran, tetapi mereka melihat ‘iklan kehidupan’ dari orang tuanya. Ketika seorang anak melihat orang t uanya tekun berdoa di pojok tempat tidur setiap pagi dan memancarkan sukacita saat bekerja, di situlah rasa rindu untuk mengikut Tuhan tumbuh secara alami.”
Warisan iman terpancar saat seseorang sudah dipenuhi oleh kasih Allah. Ketika hatinya penuh, perjumpaan dengan siapa pun akan menghasilkan kenyamanan, keteduhan, dan sukacita yang melimpah.
Gereja Monumen vs. Gereja Momentum: Ortodoksi, Ortopraksi, dan Ortopati
Dalam Seminar HUT ke-96 bertema “Menuju 100 Tahun; Bukan Sekedar Bertambah Usia”, gereja diibaratkan menghadapi dua pilihan bentuk keberadaan:
- Gereja Monumen: Gereja yang berfokus pada nostalgia masa lalu, mengagumi prestasi sejarah, namun akhirnya stagnan dan kehilangan daya juang setelah perayaan usai. Gereja monumen berhenti pada tanda titik (.).
- Gereja Momentum: Gereja yang jujur merespon panggilan Tuhan, bersiap menghadapi perubahan zaman, dan menjadikan setiap pencapaian sebagai tanda koma (,) untuk terus bergerak maju mengejar karya keselamatan Allah (oikonomia).
Tiga Pilar Keseimbangan Bergereja
Untuk menjadi Gereja Momentum yang sehat, gereja harus menjaga keseimbangan tiga elemen penting:
- Ortodoksi (Pengajaran yang Benar): Memastikan dogmatika dan pemahaman ajaran gereja berakar kuat pada firman Tuhan (Kreatura Verbi).
- Ortopraksi (Tindakan/Praktik yang Benar): Mengaplikasikan pengajaran tersebut dalam program penatalayanan, peribadatan, dan aksi sosial nyata di tengah masyarakat.
- Ortopati (Rasa/Patos yang Benar): Melibatkan keterikatan emosional dan olah rasa yang tulus. Pengajaran dan program yang hebat tidak akan berdampak jika jemaat kehilangan roso (kemampuan empati, kehangatan relasi, dan rasa memiliki terhadap persekutuan).
Perjalanan GKJ Sidareja yang dimulai dari persekutuan kecil tiga keluarga pedagang pada tahun 1920-an hingga tumbuh menjadi jemaat ratusan jiwa menunjukkan bahwa gereja bertahan bukan karena kehebatan organisasi semata, melainkan karena keterlibatan hati (ortopati) seluruh warga gereja.

Refleksi Jemaat Melalui Padlet: Suara Karya dan Harapan
Sebagai sarana menguji penerapan ortopati (olah rasa) dan keterlibatan intergenerasi secara nyata, peserta seminar diajak menuangkan refleksi pribadi melalui platform digital Padlet. Jemaat merespon tiga pertanyaan reflektif: hal yang disyukuri dari 96 tahun perjalanan gereja, hal yang perlu diperbaiki, dan tindakan nyata yang siap dilakukan.
Berikut adalah beberapa sampel kiriman refleksi Padlet dari warga jemaat GKJ Sidareja yang merepresentasikan keterlibatan lintas generasi:
- Pesan dari akun “Wly” (Kategori Senior/Usia 80 Tahun):
“Tuhan memberkati dan mengasihi hidup saya dan keluarga saya. Sudah berusia 80 tahun, gereja memberi banyak pelayanan untuk bertumbuhnya iman saya dan keluarga. Puji Tuhan.”
- Pesan dari akun “Hopeful capar bara”:
“Gereja selalu ada untuk keadaan saya terutama untuk keluarga saya dan membentuk saya di dalam iman.”
- Pesan dari akun “Penjelajah Aurora”:
“Menjadi gereja yang nyaman bagi semua generasi.”
- Pesan dari akun “Bu Asma”:
“Yang paling disyukuri adalah kerja samanya yang semakin baik.”
- Pesan dari akun “Pak Lukas”:
“Terbangun motivasinya dalam bergerak memberi dengan sukacita, memberi dari kelimp ahan apa pun yang kita miliki.”
- Pesan dari akun “Pembuka Tabir” (Avelin / AW):
“Melakukan tindakan sekecil apa pun dalam pelayanan dengan tulus ikhlas dan hati yang penuh kasih, karena pelayanan terkecil pun merupakan ibadah yang berdampak besar.”
Sampel-sampel pesan ini membuktikan bahwa ketika jemaat diberi ruang untuk menyampaikan rasa syukur dan gagasan—mulai dari kalangan Adi Yuswo (lansia) hingga pemuda—gereja benar-benar menjadi ruang persekutuan yang hidup, relevan, dan siap melangkah menuju seabad kehidupannya.
Ringkasan dan Evaluasi Pemahaman
Perjalanan 96 tahun GKJ Sidareja memberikan pelajaran berharga bahwa gereja bukanlah sekadar bangunan fisik atau Monumen sejarah yang kaku, melainkan Momentum persekutuan hidup yang terus memperbarui diri. Warisan iman sejati ditanamkan melalui pengajaran yang benar (ortodoksi), tindakan nyata (ortopraksi), serta keterlibatan olah rasa dan kehangatan relasi antargenerasi (ortopati).
Poin-Poin Kunci (Key Takeaways):
- Warisan Iman vs. Harta: Warisan iman tidak menguap seperti nasihat lisan, melainkan melekat melalui teladan hidup dan Hukum Kasih yang disaksikan secara nyata oleh generasi muda.
- Koma, Bukan Titik: Menuju usia 100 tahun bukanlah akhir pencapaian, melainkan tanda koma (,) untuk terus melanjutkan karya penatalayanan Allah (oikonomia).
- Pentingnya Ortopati: Keberhasilan pelayanan gereja tidak hanya diukur dari kerapian struktur organisasi, tetapi dari sentuhan rasa emosional dan keterlibatan tulus jemaat.
- Gereja Intergenerasi: Kolaborasi aktif antara warga senior (Adi Yuswo), dewasa, pemuda, dan anak-anak adalah kunci utama agar gereja tetap hidup dan menjadi Sida Rejo (benar-benar sejahtera dan menjadi berkat).

