Merah Putih di Altar: Menjadi Bangsa Berintegritas dalam Perayaan HUT RI ke-80 Tahun 2025 di GKJ Sidareja

Published by

on

Suasana GKJ Sidareja pada Minggu, Agustus 2025, tampak berbeda dari biasanya. Warna merah dan putih mendominasi setiap sudut gereja, mulai dari dekorasi altar hingga pakaian yang dikenakan oleh jemaat. Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 ini bukan sekadar upacara bendera, melainkan sebuah refleksi iman yang mendalam melalui Ibadah Syukur dan Pelayanan Perjamuan Kudus.

Dua pendeta, Pdt. Handono Prasetyo Wardono dan Pdt. Yehuda Fajar Kristian Labeti, memimpin jalannya ibadah yang mengusung tema menggugah: “Menjadi Bangsa yang Berintegritas: Berjuang Memulihkan dan Membebaskan”.

1. Apa Itu Integritas? Belajar dari “Integer”

Dalam khotbahnya, Pdt. Handono menekankan bahwa kata integritas berasal dari bahasa Latin integer, yang berarti kesatuan yang utuh. Menjadi bangsa yang berintegritas berarti memiliki keselarasan antara karakter dan tindakan, antara apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan.

Beliau mengingatkan jemaat untuk tidak menjadi pribadi yang “bertopeng” atau munafik—pintar menilai zaman secara teknologi namun gagal memiliki kejujuran hati. “Jangan sampai omongan manis, tapi hatinya busuk penuh penghakiman,” tegasnya.

2. Memulihkan dengan “Tiga Kata Sakti”

Pdt. Yehuda melanjutkan pesan tentang bagaimana integritas itu diwujudkan secara nyata. Salah satu caranya adalah dengan budaya memulihkan yang dimulai dari hal sederhana:

• Budaya Mengampuni: Menghilangkan dendam sebagai identitas murid Kristus.

• Tiga Kata Sakti: Membiasakan diri mengucapkan “Maaf, Minta Tolong, dan Terima Kasih” dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat mengisi bensin atau dilayani orang lain.

• Disiplin Waktu: Mencontohkan integritas dengan hadir lebih awal dalam setiap kegiatan.

3. Membebaskan: Peka terhadap Lingkungan

Integritas juga berarti membebaskan sesama dari penderitaan. Jemaat diajak untuk peka terhadap realita di sekitar, seperti kisah perjuangan anak sekolah yang kurang mampu atau saudara-saudara yang tertimpa musibah gempa di Sulawesi. Gereja dipanggil untuk keluar dari kenyamanan dan menjadi agen pembebasan bagi mereka yang tertindas.

4. “Beli Buntil Dapat Mobil”: Semangat Gotong Royong

Satu hal menarik dalam warta jemaat adalah rencana pengadaan armada tambahan untuk kegiatan Raga Rumanti (pelayanan kedukaan). Gereja membutuhkan mobil baru (Zebra) untuk mendukung mobilitas pelayanan yang sangat tinggi.

Uniknya, pelunasan armada ini dilakukan melalui semangat gotong royong dalam ibadah Unduh-unduh. Dengan jargon “Beli Buntil Dapat Mobil” atau “Beli Beras Mobile Lunas”, jemaat diajak memberikan persembahan terbaik mereka melalui lelang hasil bumi dan makanan pada September mendatang.

Penutup: Merdeka untuk Berkarya

Ibadah ditutup dengan sakramen Perjamuan Kudus, sebuah simbol pengorbanan Kristus yang mematikan dosa dan menghidupkan harapan baru. Dengan semangat proklamasi yang menggema di dalam gereja, GKJ Sidareja berkomitmen untuk terus menjadi berkat bagi bangsa Indonesia.

Merdeka! Merdeka! Merdeka!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *