Menembus Tembok, Menjadi Harmoni: Catatan Syukur Kenaikan dan Pentakosta 2025 di GKJ Sidareja

Published by

on

Gereja Kristen Jawa (GKJ) Sidareja baru saja melewati momen-momen spiritual yang penuh warna. Melalui perayaan Kenaikan Tuhan Yesus dan Hari Raya Pentakosta 2025, jemaat diajak untuk merenungkan kembali esensi kesatuan di tengah keberagaman. Bukan sekadar rutinitas liturgi, rangkaian ibadah ini menjadi pernyataan iman bahwa gereja harus menjadi tempat di mana semua sekat runtuh.

1. Kenaikan: Menjadi Satu Tanpa Tembok Pemisah

Dengan tema “Menjadi Satu melalui Kenaikan”, ibadah Kenaikan Tuhan Yesus menekankan semangat universalitas dan pluralitas. Melalui peristiwa kenaikan-Nya, Yesus bukan lagi milik kelompok terbatas secara geografis, melainkan milik dunia.

Pesan yang sangat kuat dalam ibadah ini adalah panggilan bagi gereja untuk membongkar tembok pemisah. GKJ Sidareja telah memulai langkah ini sejak tahun 2007 dengan memperbolehkan anak-anak ikut serta dalam sakramen Perjamuan Kudus. Hal ini membuktikan bahwa tembok usia, gender, status sosial, hingga latar belakang budaya tidak boleh menghalangi seseorang untuk merasakan kasih Tuhan.

Kehangatan ibadah ini semakin terasa dengan adanya “pesta snack” hasil gotong royong jemaat yang terkumpul lebih dari 900 buah dengan 29 jenis makanan. Sebuah bukti nyata bahwa sukacita Kenaikan adalah milik semua orang.

2. Pentakosta: Roh Kudus sebagai “Konduktor” Harmoni

Jika Kenaikan adalah tentang kesatuan, maka Pentakosta dengan tema “Roh Kudus Roh Pemersatu” berbicara tentang bagaimana kesatuan itu dikerjakan. Dalam suasana yang didominasi warna merah sebagai simbol semangat Roh Kudus, jemaat diajak memahami analogi yang unik: Gereja sebagai sebuah orkestra.

Dalam sebuah orkestra, terdapat berbagai alat musik yang berbeda. Tanpa arahan, bunyi yang dihasilkan akan kacau. Namun, ketika ada seorang Konduktor, perbedaan suara itu menjadi harmoni yang indah. Roh Kudus adalah Konduktor bagi gereja. Ia memadukan perbedaan pakaian, usia, dan karakter jemaat menjadi sebuah simfoni yang menarik di hadapan Tuhan.

Ibadah Pentakosta kali ini dirayakan dengan penuh ekspresif, diisi dengan 12 lagu pujian yang membangkitkan semangat.

3. Perjamuan Kasih: Merayakan Satu Tubuh

Kesatuan di GKJ Sidareja tidak berhenti di dalam gedung gereja. Ibadah Pentakosta diakhiri dengan kegiatan “Nyoto Bersama” (makan soto bersama) sebagai bentuk perjamuan kasih.

Momen ini menjadi waktu bagi jemaat untuk saling berbagi cerita dan menghilangkan kerinduan, mempertegas pesan bahwa kita semua adalah satu tubuh di dalam Kristus. Tidak ada lagi yang merasa terasing; semua duduk bersama menikmati berkat jasmani setelah dikuatkan secara rohani.

Penutup: Bersaksi dalam Sukacita

Melalui dua momen besar ini, jemaat GKJ Sidareja diingatkan untuk terus bersaksi kepada dunia. Bukan dengan ketakutan, melainkan dengan sikap menyembah dalam sukacita. Mari kita bawa semangat “Konduktor” Roh Kudus ini ke dalam kehidupan sehari-hari, menjadi pembawa damai yang membongkar setiap tembok kebencian.

Urip iku kudu urup — Biarlah hidup kita terus menyala dalam kasih Tuhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *