Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Sinode Gereja-Gereja Kristen Jawa (GKJ) ke-94 menjadi momen refleksi yang luar biasa bagi seluruh jemaat. Dalam ibadah Tukar Pelayanan Firman (TPF) yang diselenggarakan di GKJ Sidareja pada Minggu, 9 Februari 2025, tema besar yang diusung adalah “Tebarkan Jalamu”.

Pesan yang disampaikan oleh Bapak Pendeta Ari Kristanto dari GKJ Sukorejo mengajak kita untuk melihat melampaui rutinitas gerejawi dan memahami panggilan sejati sebagai pengikut Kristus.
1. Melakukan yang Benar, Bukan Sekadar Rutinitas
Seringkali, aktivitas spiritual seperti berdoa, beribadah, dan memberi persembahan terjebak dalam taraf rutinitas atau kebiasaan belaka. Namun, dalam perenungannya, Pdt. Ari menekankan bahwa apa yang sering kita lakukan belum tentu kita lakukan dengan benar.
Belajar dari Simon Petrus dalam Lukas 5:1-11, meskipun ia adalah nelayan berpengalaman, ada satu elemen kunci yang menyempurnakan tindakannya: keberserahan total kepada Tuhan. Melakukan hal yang “benar” berarti melakukan segala sesuatu dengan hati yang berserah, bukan sekadar agar dilihat baik oleh orang lain.
2. Panggilan “Jemput Bola”: Gereja yang Berani Keluar
Salah satu poin penting dalam khotbah ini adalah konsep “jemput bola”. Meneladani Yesus yang tidak hanya berdiam diri di sinagoge (tempat ibadah), gereja masa kini diundang untuk berani keluar dan merengkuh mereka yang membutuhkan pertolongan.
Kasih Tuhan harus dibawa keluar dari dinding gereja untuk menyentuh saudara-saudara kita yang mungkin merasa enggan atau malu untuk datang ke gereja. Gereja dipanggil untuk aktif melihat siapa yang perlu ditolong, bukan hanya menunggu orang datang meminta bantuan.
3. Makna Sejati Menjadi “Penjala Manusia”
Apa artinya menjadi penjala manusia? Jika penjala ikan membawa ikan dari kehidupan (air) menuju kematian, menjadi penjala manusia berarti membawa sesama dari kematian menuju kehidupan.
Ciri utama dari persekutuan yang “hidup” adalah:
• Adanya Pergerakan: Tidak statis atau sekadar merasa cukup setelah dibaptis, melainkan terus bergerak maju dan berkarya di dalam Tuhan.
• Menghadirkan Damai Sejahtera: Menjadi pembawa kedamaian (adem ayem) di tengah persekutuan, bukan malah menjadi sumber masalah atau kekisruhan.
Momen Syukur dan Kebersamaan
Ibadah HUT ke-94 ini juga dimaknai dengan sakramen Perjamuan Kudus, sebuah tanda syukur atas penyertaan Bapa yang senantiasa memelihara iman jemaat. Semangat kebersamaan semakin terasa melalui kehadiran tim dari GKJ Sukorejo dan persembahan pujian dari Lentera Voice.

“Urip iku kudu urup”—hidup itu harus menyala. Mari kita tebarkan jala kita dengan benar, berserah penuh kepada Tuhan, dan jadilah penjala manusia yang menghidupkan damai sejahtera di mana pun kita berada.
Selamat Hari Ulang Tahun ke-94 Sinode GKJ! Tuhan Memberkati.


Leave a Reply